Hai semuanya. Bagaimana hari ini? Baik? Atau memendam sesuatu yang tak berani kalian ungkapkan?.  Saya mau bertanya, apa suku kalian?. Makassar? Bugis? Mandar? Pattinjo? Selayar? Dayak? Sunda? Jawa? Atau yang lainnya?. Jika kalian bersuku bugis, maka kalian pastinya tahu arti ungkapan ini “Silaingeng”. Yang teliti bacanya yah, kawan. Perhatikan baik-baik tulisannya, jangan sampai kalian membacanya silariang. Atau kalian tadinya membacanya demikian. Tahu artinya, tidak?.  “Silaingeng.

 Secara bahasa berarti ‘berbeda’ atau secara istilah berarti sesuatu yang antara satu dan lainnya tidak terdapat kesamaan. Saya menerjemahkannya seperti itu, jika kalian orang Bugis, maka pasti tahu lebih rinci lagi tentang kalimat tersebut.

Nah, pasti kalian bertanya-tanya, “ada apa dengan kalimat tersebut?”. Di sekitar kita pasti tak ada orang yang sama wajahnya, artinya berbeda wajah antara orang satu dengan yang lainnya dan itu pasti. Kalaupun misal ada orang yang wajahnya sama alias mirip, bisa saja. Tapi pasti tidak mempunyai kesamaan dalam berkarakter. Karena sebenarnya, Tuhan telah mengatur semuanya, Dia adalah penyusun skenario terbaik sekaligus sutradara dalam kehidupan yang kita jalani. Begitupun dengan ciptaan-Nya.

Tak ada satu orang pun yang sama persis, mulai dari wajah, sifat atau karakter, warna kulit dan seterusnya. Saya merasa bahwa kita tidak ada apa-apanya di mata Tuhan, kita hanyalah ibarat pion dalam catur, dikendalikan oleh sang pemain. Kawan, pernahkah kita menyadari semua yang telah Tuhan ciptakan itu adalah hal yang luar biasa. Kita lihat manusia, bagaimana penciptaannya yang begitu lengkap dan sempurna.

Sehebat-hebatnya alat canggih sekarang ini, tak ada satu orang pun yang dapat menciptakan kamera yang bersih secara utuh dan bersih dalam sisi pandang selain mata yang Allah berikan kepada tiap hamba-hambanya. Betapa hebatnya orang-orang membuat alat bantu dengar sebagai alat bantu bagi mereka yang pendengarannya tidak bagus, tapi justru tak ada satu orang dalam sejarah mana pun yang dapat menciptakan alat pendengaran yang amat luar biasa selain telinga yang telah diperuntukkan kepada kita.

Sehebat bagaimana pun para medis dengan alat bantu bernafas untuk pasiennya, menyediakan banyak oksigen dengan biaya yang sangat mahal yang dapat menipiskan dompet, tapi justru tak ada seorang pun dari pakar medis manapun yang dapat menciptakan alat pernapasan se-luar biasa hidung yang Allah anugerahkan kepada kita. Tak pandang itu mancung atau pesek, karena fungsinya sama. Perbedaan ukuran tidak mengurangi fungsinya.

Ada anekdot yang mengatakan bahwa orang yang berhidung pesek itu umurnya lebih panjang daripada mereka yang berhidung mancung. Alasannya, karena hidung pesek itu sempit dan udara yang dikeluarkannya tidak banyak, udara yang dihirup pun tidak banyak. Dalam artian bahwa orang yang berhidung pesek itu hemat nafas dan yang mancung boros nafas. Padahal tidak demikian, buktinya, para manusia mancung sekarang hampir menyamai jumlah para “pesekers”.

Ratusan bahkan ribuan nikmat Tuhan telah kita rasakan hingga detik ini, dan kita hanya menggunakannya secara cuma-cuma. Tidak perluh mengocek uang untuk membayarnya. Tapi lihatlah, mereka diberi yang gratis oleh Tuhan, tapi justru tak punya rasa terimakasih sama sekali dan menganggap biasa saja. Tapi justru sakit, mereka berharap disembuhkan, mengingat Tuhannya. karena fenomena yang banyak sekarang adalah, banyak orang mengingat Tuhannya ketika sedang jatuh sakit, tapi ketika ia sedang bahagia atau sehat, malah melupakan Tuhannya. Ini kurang ajar , kan namanya?.

Karena memang, nikmat kesehatan akan terasa berharga ketika kita kehilangannya. Ada orang yang harus menguras dompet puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk menghirup oksigen dengan mudah melalui alat yang disiapkan oleh ahli medis atau para pakar kesehatan.

Mari kita kalkulasikan. Jika Tuhan mengharuskan kita  untuk membayar udara yang kita hirup dengan harga Rp. 1.000/detik. Anggap saja kita menghirup udara selama 1 menit, berarti sudah 60 detik dan ini sudah memakan uang Rp.60.000/1 menit. Ini baru semenit saja, kalau sejam, kita sudah mengahabiskan uang Rp. 360.000. bagaimana jika 2 jam? 3 jam? Atau sehari?. Sehari saja kita menghabiskan Rp. 864.000. ini baru perhitungan sehari, bagaimana kalau sebulan? Atau setahun? Atau selama hidup kita?.

Anggaplah kita berumur 50 tahun dan tiap detiknya kita diwajibkan untuk membayar tiap oksigen yang kita hirup, sudah habis tabungan panai’ kita pastinya. Dan saya yakin, jika kejadiannya demikian, tidak ada orang kaya di dunia ini. Tapi Alhamdulillah, Tuhan mengratiskannya, dan kita menggunakannya sesuka hati.

Pertanyaannya, apakah kita merasa santai saja dengan pemberian ini? Merasa bahwa itu adalah kewajiban Tuhan terhadap hamba-Nya?. Karena Dia telah memberikan semuanya secara cuma-cuma, maka secara tidak langsung, Tuhan mengajari kita bagaimana dapat berbagi dengan sesama manusia yang lainnya dan memberikan secara cuma-cuma sebagai wujud terimakasih kita kepada Tuhan dan tidak harap pemberian balik atau berharap imbalan.

Dalam Asmaul Husna, terdapat kata ar-Razzaq dan al-Ghaniy yang bermakna bahwa Allah itu luas dalam memberikan kita rezeki, tidak sekke. Maka seyogyiyanya kita dapat demikian. Minimal menyumbang 1.000 ke masjid tiap hari/sekali seminggu ke masjid.

“Silaingeng”  mengisyratkan kepada kita untuk tidak membeda-bedakan orang lain dari beberapa sudut pandang. Kecuali mereka yang harusnya dikecualikan. Karena pada hakikatnya, kita sama di hadapan Allah. Tak ada yang dibedakan. Kawan, membaca memang dianggap hal yang membosankan oleh sebagian orang. Bukan kah begitu? Tapi tak sedikit orang-orang sukses itu berhasil karena membaca, kita bisa melihat isi rumah orang sukses, pasti kita akan menemukan banyak buka dari segala referensi yang berbeda-beda.

Itu karena mereka suka membaca dan menambah wawasannya dengan membaca. Seperti contoh Prof. Azhar Arsyad, MA., Badaruddin Yusuf Habibie, Jusuf Kalla, al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, al-Biruni, dan seterusnya. Maka dari itu, saya menyarankan kepada kalian untuk memandang “Silaingeng” dengan perspektif yang positif dari sudut yang berbeda.

Author

"Gantungkankah cita-citamu setinggi langit, walaupun jasadmu ada di bumi"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *