Semua orang pasti punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Semua orang pun bisa diajar, tapi tak semua orang bisa menjadi pengajar. Sebenarnya bukan hal yang mudah untuk menjadi guru atau pengajar, karena dalam hal penyampaian materi, tidak semua orang ahli di dalamnya.

Guru adalah orang yang hebat, luar biasa. Kenapa? karena di tangan guru terbentuk karakter para peserta didik, karena guru, banyak orang yang tak berada menjadi orang yang dibanggakan bahkan berpangkat. Berkat guru pula, kita bisa tahu banyak hal yang tidak kita ketahui sama sekali sebelumnya, dan kita juga pastinya sudah tahu kalau guru merupakan pengganti orang tua di sekolah, dan karenanya itu, guru adalah orang yang hebat.

Di Jepang, mereka yang berprofesi sebagai guru, jika meninggal ditempatkan di pemakaman yang bukan biasa, yah, di makam pahlawan. Karena memang pada dasarnya, guru adalah pahlawan tanda jasa.

Coba ingat masa ketika kita masih ingusan, masa dimana belum ada game online, masih bermain lompat tali, petak umpet dan permainan kecil lainnya, saat itu dibina dengan tulus oleh guru kita di sekolah. Memang, sebagian besar waktu kita di rumah, berada pada pengawasan orang tua. Namun bukan berarti guru tak punya peran penting dalam pembentukan karakter.

Kalau  kita ingin membandingkan akhlak atau perilaku peserta didik dulu dan zaman now, sangat jauh perbedaannya, berbanding 180 derajat. Di Sulawesi, ada budaya tabe. Tradisi ini adalah tradisi turun-temurun dari leluhur Bugis-Makassar. Kalau dalam bahasa Indonesia, artinya semisal dengan ‘permisi’, namun yang jadi perbedaan, kata ini diucapkan sambil jalan pelan dalam kedaaan menuduk.

Dan ini digunakan ketika hendak lewat di depan orang tua, guru, ataupun orang yang lebih tua dari kita, dan juga sebagai penghormatan ketika ingin lewat di hadapan orang lain.

Budaya ini sudah ada sejak dulu, saat kecil, kami yang lahir di tanah Sulawesi, Sulawesi Selatan khususnya, diajarkan budaya ini sejak kecil. Kalau di Jepang, budaya seperti ini bernama Ojigi. Untuk kalian pecinta anime Jepang atau film Jepang, pastinya tak asing lagi dengan budaya ini. Orang Nihon(sebutan bagi orang Jepang) dengan budaya ‘ojigi’­-nya ini diperuntukkan kepada orang yang dihormati dan dihargai, selain itu, juga sebagai salam sapa.

Budaya mappatabe di era milenial sekarang kian terkikis keberadaannya, banyak dari kalangan orang tua yang tak mengajarkan budaya ini sebagai warisan leluhur Sulawesi Selatan. Mereka menggantinya dengan memberikan gadget. Padahal anak yang masih di bawah umur sebaiknya dididik terlebih dahulu, penanaman karakter.

Hasilnya bisa kita lihat di masa sekarang, banyak anak durhaka yang merasa tak bersalah membentak, menghardik, bahkan membunuh orang tuanya. Tapi yang disalahkan justru si anak-nya. Sebenarnya bukan salah anak, tapi orang tua lah yang kurang ‘pandai’ mendidik anaknya.

Dalam hal seperti ini, guru mempunyai peran yang sangat penting. Namun, satu hal yang diketahui oleh peserta didik, yaitu “guru membukakan pintu, masuk atau tidaknya itu tergantunya muridnya”.  Artinya apa, guru menjadi ladang ilmu bagi pelajar.

Hanya saja, banyak dari peserta didik yang justru membiarkan ‘pintu’ tersebut terbuka saja tanpa ada niat untuk dimasukinya. Memang guru bukanlah pahlawan yang berhasil mengusir penjajah dari nusantara, tapi karena guru lahir pahlawan. Semestinya guru untuk kita banggakan, untuk kita hargai dan patuhi. Kalau kita kembali ke logika, guru dibayar murah dituntut untuk memperbaiki akhlak murid-murid sedangkan artis justru dibayar mahal hanya untuk merusak karakter murid yang telah diajarkan.

Dalam hal ini, apakah guru yang bertanggungjawab?. Masalah tanggungjawab, sebenarnya tak sepenuhnya adalah tanggungjawab guru, orang tualah yang harusnya lebih bertanggungjawab.

Kalau kita ingin kalkulasi waktu yang dimiliki siswa antara guru dan orang tua, waktu bersama orang tua pastinya lebih banyak. Maka orang tua harusnya lebih cerdas dalam mendidikan karakter anaknya dan juga memberikan perhatian lebih. Anehnya, orang tua zaman now(kebanyakan) tampaknya tak begitu peduli lagi.

 

 

 

Author

"Gantungkankah cita-citamu setinggi langit, walaupun jasadmu ada di bumi"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *